Struktur & Fungsi Jaringan pada tumbuhan Dan Hewan - Perangkat Pembelajaran Kompetensi Abad 21

Buku Mapel, RPP, Buku Kerja Guru, Perangkat Akreditasi, Silabus, PERMENDIKBUD, Buku Kerja Kepala Sekolah, Tematik, KKM, SKL, KI-KD, Juknis TK, PAUD, SD, MI, SMP, MTs, SMA, MA, SMK

Struktur & Fungsi Jaringan pada tumbuhan Dan Hewan

A. Jenis-jenis Jaringan pada tumbuhan.
Setiap alat tubuh tumbuhan tersusun oleh tiga jaringan pokok, yaitu jaringan epidermis, jaringan parenkim, dan jaringan pengangkut. Selain itu di beberapa bagian tumbuhan terdapat jaringan penguat yang berkembang dari sel-sel jaringan parenkim. Sesuai dengan namanya, jaringan penguat berfungsi untuk memperkuat struktur tumbuhan. Jaringan lainnya yang terdapat pada tumbuhan adalah jaringan meristem.
1. Jaringan Meristem
Jaringan meristem terdiri dari sel-sel yang senantiasa membelah. Jaringan meristem terdapat di ujung batang dan ujung akar dan disebut meristem apikal atau meristem primer. Selain itu, jaringan meristem juga terdapat pada ruasruas batang dan batang tumbuhan dikotil dan Gymnospermae. Jaringan ini disebut meristem lateral atau meristem sekunder. Meristem lateral pada batang tumbuhan dikotil dan Gymnospermae terdapat pada kambium. Aktivitas meristem apikal menghasilkan pertumbuhan memanjang pada batang atau akar. Per-tumbuhan yang dihasilkan disebut pertumbuhan primer. Sedangkan aktivitas meristem lateral menyebabkan bertambahnya ukuran diameter batang atau memanjangnya ruas-ruas batang. Pertumbuhan yang dihasilkan disebut pertumbuhan sekunder. 
2. Jaringan Epidermis
Jaringan epidermis terdiri dari sel-sel epidermis yang tersusun rapat dan tanpa rongga antarsel. Biasanya hanya terdiri dari satu lapisan sel. Epidermis berfungsi sebagai pelindung bagi jaringan-jaringan yang ada di bawahnya. Epidermis dapat mengalami modifikasi membentuk stomata, lentisel, rambut akar, dan trikoma. Pada daun tumbuhan yang hidup di darat, sel-sel epidermis menghasilkan kutikula yang dapat mencegah penguapan yang berlebihan dari sel-sel daun.
3. Jaringan Parenkim
Jaringan parenkim terdiri dari sel-sel yang telah dewasa. Walaupun demikian, sel-sel parenkim masih dapat membelah. Fungsi sel parenkim adalah sebagai penyimpan cadangan makanan, tempat fotosintesis, penutupan luka, regenerasi, dan penyusun utama berbagai alat tubuh atau organ tumbuhan. Jaringan parenkim terdapat di semua organ tumbuhan dengan bentuk dan fungsi yang beragam. Misalnya terdapat sebagai empulur yang mengisi sebagian besar atau seluruh korteks akar dan batang, mesofil daun, dan bagian buah yang berdaging. Jaringan tiang atau parenkim palisade merupakan sel-sel parenkim yang terdapat di daun. Jaringan ini terdiri dari sel-sel yang bentuknya memanjang dan banyak mengandung klorofil. Jaringan bunga karang atau parenkim spons merupakan selsel parenkim yang berada di bawah lapisan jaringan parenkim palisade. Selain itu, di dalam jaringan yang lain seperti jaringan pengangkut (xilem dan floem) juga terdapat sel parenkim.
4. Jaringan Pengangkut
Jaringan pengangkut pada tumbuhan terdiri dari xilem dan floem.
a. Xilem atau pembuluh kayu, susunan jaringannya kompleks, terdiri dari beberapa tipe sel. Penyusun utama jaringan xilem adalah trakea dan trakeid. Sel-sel ini berfungsi sebagai pengangkut air dan zat-zat yang terlarut di dalamnya dari akar menuju daun.
b. Floem atau pembuluh tapis, pada batang dikotil terletak di sebelah luar xilem. Fungsinya untuk mengantarkan hasil fotosintesis dari daun ke seluruh bagian tubuh tumbuhan. Floem disebut pula pembuluh tapis karena terdapat sel-sel tapis yang mirip saringan.
5. Jaringan Penguat
Jaringan penguat berfungsi untuk mendukung kokohnya struktur berbagai bagian tumbuhan. Jaringan penguat terdiri dari kolenkim dan skelerenkim.
a. Kolenkim, sel-selnya memiliki dinding yang tipis dengan penebalan di sudut-sudut sel. Bentuk selnya bervariasi, berfungsi sebagai penyokong bagian-bagian tumbuhan. Misalnya terdapat pada batang, tangkai daun, dan bunga.
b. Sklerenkim, sel-selnya mengalami penebalan di seluruh bagian sel. Sklerenkim dapat berasal dari kolenkim yang mengalami penebalan lebih lanjut. Contohnya terdapat pada tempurung kelapa, kulit biji, dan tangkai buah

B. Sifat totipotensi dan kultur jaringan. 
Totipotensi yaitu kemampuan setiap sel tumbuhan untuk tumbuh menjadi individu baru yang sempurna. Pada tahun 1969, F.C Steward mengadakan eksperimen dengan cara mengambil satu sel empulur wortel, kemudian ditumbuhkan menjadi individu baru. Teknik ini dikenal dengan kultur jaringan . Kultur jaringan adalah teknik perbanyakan tanaman dengan cara mengisolasi bagian tanaman (seperti jaringan akar, batang, daun dan mata tunas ), kemudian menumbuhkannya pada media buatan yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh hormon secara aseptik dalam wadah tertutup yang tembus cahaya (misalnya botol-botol kaca), pada suhu tertentu sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan bergenerasi menjadi tanaman lengkap.

Dasar teori kultur jaringan yaitu :
1. Sel dari suatu organisme multiseluler di manapun letaknya, sebenarnya sama dengan sel zigot karena berasal dari satu sel tersebut (setiap sel berasal dari satu sel).
2. Teori totipotensi sel, artinya setiap sel memiliki potensi genetik seperti zigot, yaitu mampu memperbanyak diri dan berdiferensiasi menjadi tanaman lengkap.
3. Pada tumbuhan masih terdapat sel atau jaringan yang belum berdiferensiasi, yaitu jaringan meristem dan jaringan dasar (parenkim) yang masih aktif membelah.
a. Jenis Kultur Jaringan
Berdasarkan jenis eksplan (sel atau jaringan asal), jenis kultur jaringan dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu:
1) Meristem culture, yaitu teknik kultur jaringan dengan menggunakan eksplan dari jaringan muda atau meristem.
2) Pollen yaitu teknik kultur jaringan menggunakan eksplan dari serbuk sari atau benang sari.
3) Protoplas culture, yaitu teknik kultur jaringan dengan menggunakan eksplan dari protoplasma (sel hidup yang telah dihilangkan dinding selnya ) .
4) Chloroplast culture, yaitu teknik kultur jaringan dengan menggunakan eksplan kloroplas untuk tujuan perbaikan sifat tanaman dengan membuat varietas baru.
5) Somatic cross atau silangan protoplasma, yaitu penyilangan dua macam protoplasma menjadi satu, kemudian dibudidayakan hingga menjadi tanman yang mempunyai sifat baru.
b. Teknik Kultur Jaringan (Mikropropagasi)
Perbanyakan tanaman dengan teknik kultur jaringan meliputi beberapa tahap, yaitu sterilisasi, pembuatan media, inisiasi, multipikasi, pengakaran dan aklimatisasi.
1) Sterilisasi . Segala kegiatan pada kultur jaringan yang harus dilakukan ditempat yang steril, yaitu Laminar air flow cabinet dengan menggunakan alat-alat yang juga steril. Sterilisasi eralatan dapat dilakukan dengan pemanasan di dalam autoklaf serta pencelupan kedalam etanol atau kaporit.
2) Pembuatan media. Komposisi media yang digunakan bergantung pada jenis tanaman yang akan dikultur.
3) Inisiasi adalah pengambilan eksplan dari bagian tanaman yang akan dikultur.
4) Multipikasi adalah fase saat eksplan akan menunjukkan adanya pertumbuhan akar yang menandai proses kultur jaringan yang dilakukan mulai berjalan dengan baik.
Aklimatisasi adalah kegiatan eksplan keluar dari aseptik ke bedeng. Pemindahan dilakukan secara hati-hati dan bertahap yaitu dengan memberikan sungkup.
c. Keunggulan Pembibitan dengan Teknik Kultur Jaringan
Teknik kultur jaringan dimanfaatkan untuk penyediaan bibit tanaman secara vegetatif pada tanaman yang sulit dikembangbiakan secara generatif, misalnya anggrek. Pembibitan dengan teknik kultur jaringan memiliki beberapa keunggulan, antara lain :
1) Dapat diperoleh bibit yang bersifat identik dengan induknya.
2) Tidak membutuhkan tempat yang luas.
3) Kualitas dan kesehatan bibit lebih terjamin.
4) Bibit yang dihasilkan seragam
5) Bibit akan lebih cepat pertumbuhannya.
6) Pengadaan bibit tidak tergantung pada musim.
7) Dengan waktu yang singkat bisa mendapatkan bibit dalam jumlah banyak.

C. Struktur dan fungsi jaringan pada tumbuhan.
Tumbuhan tersusun atas banyak sel. Sel-sel itu pada tempat tertentu membentuk jaringan. Jaringan adalah sekelompok sel yang mempunyai struktur dan fungsi yang sama dan terikat oleh bahan antarsel membentuk suatu kesatuan.
Seiring tahap perkembangannya, jaringan penyusun tubuh tumbuhan dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu jaringan meristem dan jaringan dewasa.
1. Jaringan Meristem
Jaringan meristem adalah jaringan yang sel penyusunnya bersifat embrional, artinya mampu secara terus-menerus membelah diri untuk menambah jumlah sel tubuh. Sel meristem biasanya merupakan sel muda dan belum mengalami diferensiasi dan spesialisasi. Ciri-ciri sel meristem biasanya berdinding tipis, banyak mengandung protoplasma, vakuola kecil, inti besar, dan plastida belum matang. Bentuk sel meristem umumnya sama ke segala arah, misalnya seperti kubus.
Berdasarkan letaknya dalam tumbuhan, ada 3 macam meristem, yaitu meristem apikal, meristem lateral, dan meristem interkalar. Meristem apikal terdapat di ujung batang dan ujung akar.


Meristem interkalar merupakan bagian dari meristem apikal yang terpisah dari ujung (apeks) selama pertumbuhan. Meristem interkalar (antara) terdapat di antara jaringan dewasa, misalnya di pangkal ruas batang rumput. Meristem lateral terdapat pada kambium pembuluh dan kambium gabus.
Berdasarkan asal terbentuknya, meristem dibedakan menjadi meristem primer dan meristem sekunder.
a. Meristem Primer
Meristem primer adalah meristem yang berkembang dari sel embrional. Meristem primer terdapat misalnya pada kuncup ujung batang dan ujung akar. Meristem primer menyebabkan pertumbuhan primer pada tumbuhan. Pertumbuhan primer memungkinkan akar dan batang bertambah panjang. Dengan demikian, tumbuhan bertambah tinggi.
Meristem primer dapat dibedakan menjadi daerah-daerah dengan tingkat perkembangan sel yang berbeda-beda. Pada ujung batang terdapat meristem apikal. Di dekat meristem apikal ada promeristem dan ujung meristematik lain yang terdiri dari sekelompok sal yang telah mengalami diferensiasi sampai tingkat tertentu.
Daerah meristematik di belakang promeristem mempunyai tiga jaringan meristem, yaitu protoderma, prokambium, dan meristem dasar. Protoderma akan membentuk epidermis, prokambium akan membentuk jaringan ikatan pembuluh (xilem primer dan floem primer) dan kambium. Meristem dasar akan membentuk jaringan dasar tumbuhan yang mengisi empelur dan korteks seperti parenkima, kolenkima, dan sklerenkima. Tumbuhan monokotil hanya memiliki jaringan primer dan tidak memiliki jaringan sekunder. Pada tumbuhan dikotil terdapat jaringan primer dan jaringan sekunder.
b. Meristem Sekunder
Meristem sekunder adalah meristem yang berkembang dari jaringan dewasa yang telah mengalami diferensiasi dan spesialisasi (sudah terhenti pertumbuhannya) tetapi kembali bersifat embrional. Contoh meristem sekunder adalah kambium gabus yang terdapat pada batang dikotil dan Gymnospermae, yang dapat terbentuk dari sel-sel korteks di bawah epidermis.
Jaringan kambium yang terletak di antara berkas pengangkut (xilem dan floem) pada batang dikotil merupakan meristem sekunder. Sel kambium aktif membelah, ke arah dalam membentuk xilem sekunder dan ke luar membentuk floem sekunder. Akibatnya, batang tumbuhan dikotil bertambah besar. Sebaliknya batang tumbuhan monokotil tidak mempunyai meristem sekunder sehingga tidak mengalami pertumbuhan sekunder. Itulah mengapa batang monokotil tidak dapat bertambah besar.

2. Jaringan Dewasa
Jaringan dewasa merupakan jaringan yang terbentuk dari diferensiasi dan spesialisasi sel-sel hasil pembelahan jaringan meristem. Diferensiasi adalah perubahan bentuk sel yang disesuaikan dengan fungsinya, sedangkan spesialisasi adalah pengkhususan sel untuk mendukung suatu fungsi tertentu. Jaringan dewasa pada umumnya sudah tidak mengalami pertumbuhan lagi atau sementara berhenti pertumbuhannya. Jaringan dewasa ini ada yang disebut sebagai jaringan permanen. Jaringan permanen adalah jaringan yang telah mengalami diferensiasi yang sifatnya tak dapat balik (irreversibel). Pada jaringan permanen sel-selnya tidak lagi mengalami pembelahan. Jaringan dewasa meliputi jaringan epidermis, gabus parenkima, xilem, dan floem. Selain itu ada bagian tumbuhan tertentu yang memiliki jaringan kolenkima dan sklerenkima.
a. Epidermis
Jaringan epidermis ini berada paling luar pada alat-alat tumbuhan primer seperti akar, batang daun, bunga, buah, dan biji. Epidermis tersusun atas satu lapisan sel saja. Bentuknya bermacam-macam, misalnya isodiametris yang memanjang, berlekuk-lekuk, atau menampakkan bentuk lain. Epidermis tersusun sangat rapat sehingga tidak terdapat ruangan-ruangan antarsel. Epidermis merupakan sel hidup karena masih mengandung protoplas, walaupun dalam jumlah sedikit. Terdapat vakuola yang besar di tengah dan tidak mengandung plastida.


1) Jaringan epidermis daun
Jaringan epidermis daun terdapat pada permukaan atas dan bawah daun. Jaringan tersebut tidak berklorofil kecuali pada sel penjaga (sel penutup) stomata. Pada permukaan atas daun terdapat penebalan dinding luar yang tersusun atas zat kuting (turunan senyawa lemak) yang dikenal sebagai kutikula, misalnya pada daun nangka. Selain itu ada yang membentuk lapisan lilin untuk melindungi daun dari air, misalnya pada daun pisang dan daun keladi. Ada pula yang membentuk bulu-bulu halus di permukaan bawah sebagai alat perlindungan, misalnya pada daun durian. Sekelompok sel epidermis membentuk stomata atau mulut daun. Stomata merupakan suatu celah pada epidermis yang dibatasi oleh dua sel penutup atau sel penjaga. Melalui mulut daun ini terjadi pertukaran gas.
2) Jaringan epidermis batang
Seperi halnya jaringan epidermis daun, jaringan epidermis batang ada yang mengalami modifikasi membentuk lapisan tebal yang dikenal sebagai kutikula, membentuk bulu sebagai alat perlindungan.
3) Jaringan epidermis akar
Jaringan epidermis akar berfungsi sebagai pelindung dan tempat terjadinya difusi dan osmosis. Epidermis akar sebagian bermodifikasi membentuk tonjolan yang disebut rambut akar dan berfungsi untuk menyerap air tanah.
Stomata adalah celah yang terdapat pada epidermis organ tumbuhan. Pada semua tumbuhan yang berwarna hijau, lapisan epidermis mengandung stomata paling banyak pada daun. Stomata terdiri atas bagian-bagian yaitu sel penutup, bagian celah, sel tetangga, dan ruang udara dalam. Sel tetangga berperan dalam perubahan osmotik yang menyebabkan gerakan sel penutup yang mengatur lebar celah. Sel penutup dapat terletak sama tinggi dengan permukan epidermis (panerofor) atau lebih rendah dari permukaan epidermis (kriptofor) dan lebih tinggi dari permukaan epidermis (menonjol). Pada tumbuhan dikotil, sel penutup biasanya berbentuk seperti ginjal bila dilihat dari atas. Sedangkan pada tumbuhan rumput-rumputan memiliki struktur khusus dan seragam dengan sel penutup berbentuk seperti halter dan dua sel tetangga terdapat masing-masing di samping sebuah sel penutup.
b. Jaringan Gabus
 Jaringan gabus atau periderma adalah jaringan pelindung yang dibentuk untuk menggantikan epidermis batang dan akar yang telah menebal akibat pertumbuhan sekunder. Jaringan gabus tampak jelas pas tetumbuhan dikotil dan Gymnospermae.
Struktur jaringan gabus terdiri atas felogen (kambium gabus) yang akan membentuk felem (gabus) ke arah luar dan feloderma ke arah dalam. Felogen dapat dihasilkan oleh epidermis, parenkima di bawah epidermis, kolenkima, perisikel, atau parenkima floem, tergantung spesies tumbuhannya. Pada penampang memanjang, sel-sel felogen berbentuk segi empat atau segi banyak dan bersifat meristematis. Sel-sel gabus (felem) dewasa berbentuk hampir prisma, mati, dan dinding selnya berlapis suberin, yaitu sejenis selulosa yang berlemak. Sel-sel feloderma menyerupai sel parenkima, berbentuk kotak dan hidup. Jaringan gabus berfungsi sebagai pelindung tumbuhan dari kehilangan air. Pada tumbuhan gabus (Quercus suber), lapisan gabus dapat bernilai ekonomi, misalnya untuk tutup botol.
c. Parenkima
Di sebelah dalam epidermis terdapat jaringan parenkima. Jaringan ini terdapat mulai dari sebelah dalam epidermis hingga ke empulur. Parenkima tersusun atas sel-sel bersegi banyak. Antara sel yang satu dengan sel yang lain terdapat ruang antarsel.

Parenkima disebut juga jaringan dasar karena menjadi tempat bagi jaringan-jaringan yang lain. Parenkima terdapat pada akar, batang, dan daun, mengitari jaringan lainnya. Misalnya pada xilem dan floem.
Selain sebagai jaringan dasar, jaringan parenkima berfungsi sebagai jaringan penghasil dan penyimpan cadangan makanan. Contoh parenkima penghasil makanan adalah parenkima daun yang memiliki kloroplas dan dapat melakukan fotosintesis. Parenkima yang memiliki kloroplas disebut sklerenkima. Hasil-hasil fotosintesis berupa gula diangkut ke parenkima batang atau akar. Di parenkima batang atau akar, hasil-hasil fotosintesis tersebut disusun menjadi bahan organik lain yang lebih kompleks, misalnya tepung, protein, atau lemak. Parenkima batang dan akar pada beberapa tumbuhan berfungsi untuk menyimpan cadangan makanan, misalnya pada ubi jalar (Ipomoea batatas). Ada pula sel parenkima yang menyimpan cadangan makanan pada katiledon (daun lembaga biji) seperti pada kacang buncis (Phaseolus vulgaris).
d. Jaringan Penguat
untuk memperkokoh tubuhnya, tumbuhan memerlukan jaringan penguat atau penunjang yang disebut juga sebagai jaringan mekanik. Ada dua macam jaringan penguat pegat yang menyusun tubuh tumbuhan, yaitu kolenima dan sklerenkima. Kolenkima mengandung protoplasma dan dindingnya tidak mengalami signifikasi. Sklerenkima berbeda dari kolenkima, karena sklerenkima tidak mempunyai protoplasma dan dindingnya mengalami penebalan dan zat lignin (lignifikasi).
1) Kolenkima
Sel kolenkima merupakan sel hidup dan mempunyai sifat mirip parenkima. Sel-selnya ada Yat mengandung kloroplas. Kolenkima umumnya terletak di dekat perukaan dan di bawah epidermis pada batang, tangkai daun, tangkai bunga, dan ibu tulang daun. Kolenkima jarang terdapat pada akar. Sel kolenkima biasanya memanjang sejajar dengan pusat organ tempat kolenkima itu terdapat.
Dinding sal kolenkima mengandung selulosa, pektin, dan hemiselulosa. Dinding sel kolenkima mengalami penebalan yang tidak merata. Penebalan itu terjadi pada sudut-sudut sel, dan disebut kolenkima sudut.
Fungsi jaringan kolenkima adalah sebagai penyokong pada bagian tumbuhan muda yang sedang tumbuh dan pada tumbuhan herba.
2) Sklerenkima
Jaringan sklerenkima terdiri atas sel-sel mati. Dinding sel sklerenkima sangat kuat, tebal, dan mengandung lignin (komponen utama kayu). Dinding sel mempunyai penebalan primer dan kemudian penebalan sekunder oleh zat lignin. Menurut bentuknya, sklerenkima dibagi menjadi dua, yaitu serabut sklerenkima yang berbentuk seperti benang panjang, dan sklereid (sel batu). Sklereid terdapat pada berkas pengangkut, di antara sel-sel parenkima, korteks batang, tangkai daun, akar, buah, dan biji. Pada biji, sklereid sering kali merupakan suatu lapisan yang turut menyusun kulit biji.
Fungsi sklerenkima adalah menguatkan bagian tumbuhan yang sudah dewasa. Sklerenkima juga melindungi bagian-bagian lunak yang lebih dalam, seperti pada kulit biji jarak, biji kenari dan tempurung kelapa.


e. Jaringan Pengangkut
1) Xilem
Xilem berfungsi untuk menyalurkan air dan mineral dari akar ke daun. Elemen xilem terdiri dari unsur pembuluh, serabut xilem, dan parenkima xilem. Unsur pembuluh ada dua, yaitu pembuluh kayu (trakea) dan trakeid. Trakea dan trakeid merupakan sel mati, tidak memiliki sitoplasma dan hanya tersisa dinding selnya. Sel-sel tersebut bersambungan sehingga membentuk pembuluh kapiler yang berfungsi sebagai pengangkut air dan mineral. Oleh karena pembuluh yang membentuk berkas, maka dikatakan sebagai berkas pembuluh. Diameter xilem bervariasi tergantung pada spesies tumbuhan, tetapi biasanya 20-700 µm. Dinding xilem mengalami penebalan zat lignin.
Trakea merupakan bagian yang terpenting pada xilem tumbuhan bunga, trakea terdiri atas sel-sel berbentuk tabung yang berdinding tebal karena adanya lapisan selulosa sekunder dan diperkuat lignin, sebagai bahan pengikat. Diameter trakea biasanya lebih besar daripada diameter trakeid. Ujung selnya yang terbuka disebut perforasi atau lempeng perforasi. Trakea hanya terdapat pada Angiospermae (tumbuhan berbiji tertutup) dan tidak terdapat pada Gymnospermae (tumbuhan berbiji terbuka) kecuali anggota Gnetaceae (golongan melinjo).
Bagian trakeid dapat dibedakan dari trakea karena ukurannya lebih kecil, walaupun dinding selnya juga tebal dan berkayu. Rata-rata diameter trakeid ialah 30 µm dan panjangnya mencapai beberapa milimeter. Trakeid terdapat pada semua tumbuhan Spermatophyta. Pada ujung sel trakeid terdapat lubang seperti saringan.

2) Floem
Floem berfungsi menyalurkan zat makanan hasil fotosintesis dari daun ke seluruh bagian tumbuhan. Pada umumnya elemen floem disusun oleh unsur-unsur tapis, sel pengiris, serabut floem, sklereid, dan parenkima floem. Unsur utama adalah pembuluh  tapis dan parenkima floem. Parenkima floem berfungsi menyimpan cadangan makanan. Persebaran serabut floem sering kali sangat luas dan berfungsi untuk memberi sokongan pada tubuh tumbuhan.

Pembuluh tapis terdiri atas sel-sel berbentuk silindris dengan diameter 25 µm dan panjang 100-500 µm. Pembuluh tapis mempunyai sitoplasma tanpa inti. Dinding sel  komponen pembuluh tapis tidak berlignin sehingga lebih tipis daripada trakea. Pembuluh tapis adalah pembuluh angkut utama pada jaringan floem. Pembuluh ini bersambungan dan meluas dari pangkal sampai ke ujung tumbuhan

D. Struktur Jaringan Pada Hewan
Tubuh hewan tersusun atas banyak sel yang pada tempat tertentu sel-sel itu bersatu membentuk jaringan. Macam jaringan, organ dan sistem organ pada setiap organisme tidak selalu sama, tergantung pada tingkatan organisme itu. 
1. Jaringan Hewan 
a. Jaringan Epitelium 
Merupakan jaringan penutup permukaan tubuh, baik permukaan tubuh sebelah luar maupun sebelah dalam. Sel-sel epitulium terikat satu dengan lainnya oleh zat pengikat (semen) antar sel, sehingga hampir tidak ada ruangan antar sel. Dengan demikian jaringan ini dapat melindungi jaringan dibawahnya dari pengaruh lingkungan luar. Jaringan epitelium dapat dikelompokkan berdasarkan jumlah lapisan sel dan bentuknya, dan berdasarkan struktur dan fungsinya. 
1) Epitelium berdasarkan jumlah lapisan sel dan bentuk
a) Epitelium sederhana 
Ada yang berbentuk pipih, seperti kubus, atau seperti batang (silindris) 
b) Epitelium berlapis semu 
Epitelium ini sebenarnya tersusun atas selapis sel epitelium tetapi ketinggian sel yang menyusunnya tidak sama, sehingga terlihat seperti berlapis. Epitelium berlapis semu terdapat pada trakea. 
c) Epitelium berlapis 
Epitelium berlapis tersusun atas dua atau lebih lapisan sel. Sel pada lapisan paling dasar disebut sebagai sel basal dan terletak di atas membran basal. Di atas sel basal terdapat beberapa lapis sel yang berbentuk pipih, kubus, atau batang. 
2) Epitelium berdasarkan struktur dan fungsi 
Berdasarkan struktur dan fungsinya jaringan epitelium dibedakan menjadi dua. 
a) Jaringan epitelium penutup 
Berperan melapisi permukaan tubuh dan jaringan lainnya. Jaringan ini terdapat di permukaan tubuh, permukaan organ, melapisi rongga atau merupakan lapisan di sebelah dalam dari saluran yang ada pada tubuh. 
b) Jaringan epitelium kelenjar
Tersusun oleh sel-sel khusus yang mampu menghasilkan sekret atau getah cair yang berbeda dengan darah dan cairan antar sel, kelenjar dibedakan menjadi 2, yaitu kelenjar eksokrin dan kelenjar endokrin. 
b. Jaringan Ikat 
Jaringan ikat atau jaringan penyambung merupakan jaringan yang selalu berhubungan dengan jaringan lainnya atau organ-organ Fungsi jaringan ikat :
a) Melekatkan suatu jaringan ke jaringan 
b) Membungkus organ-organ
c) Menghasilkan umunitas 
Komponen Jaringan Ikat 
a. Sel 
b. Serabut, atau serat penyusun jaringan ikat terdiri atas tiga macam. Yaitu kolagen, elastin, retikulum. 
c. Zat dasar, merupakan zat yang tidak berbentuk, tidak berwarna, dan homogen.
Macam-macam Jaringan 
a. Jaringan Ikat biasa 
1) Jaringan ikat padat 
2) Jaringan Ikat longgar
b. Jaringan ikat khusus 
1) Jaringan tulang rawan (kartilago) 
2) Jaringan tulang sejati (osteon)
2. Jaringan Pada Hewan
Jaringan Epitel adalah jaringan yang melapisi bagian permukaan tubuh hewan multiseluler, baik permukaan luar maupun permukaan dalam. Fungsi umum epitel ialah sebagai pelindung (proteksi) dan menyeleksi apa saja yang masuk dan keluar tubuh


a. Macam Jaringan Epitel
1) Epitelium pipih selapis 
Lokasi: Peritorium yang membatasi rongga tubuh, endotelium pada permukaan dalam pembuluh darah dan jantung, alveolus paru-paru, dinding luar kapsula. Bowman dalam ginjal, selaput gendang telinga, pleura, timica serosa dari perikardium. 
Fungsi: Difusi atau filtrasi 
2) Epitelium pipih berlapis banyak
Lokasi: Epidermis kulit, rongga mulut, esofagus, lapisan dalam anus, uretra, vagina.
Fungsi: Proteksi/perlindungan. 
3) Epitelium kubus selapis
Lokasi: Kelenjar dan salurannya, permukaan luar ovarium, permukaan dalam lensa mata, epitel berpigmen retina, tubulus reanalis.
Fungsi: Sekresi dan absorpsi 
4) Epitelium kubus berlapis banyak
Lokasi: Saluran kelenjar keringat, kelenjar minyak, kelenjar ludah, pengembangan epitel di ovarium dan testis .
Fungsi:Sekresi. 
5) Epitelium silindris selapis 
Lokasi: Bermikrofili : usus (menyusun jonjot-jonjot usus). 
Bersilia : rongga hidung, bronkus, oviduk. 
Tak bersilia : lambung, kandung empedu, uterus dan salurannya . 
Fungsi: Proteksi, sekresi dan absorpsi 
6) Epitelium silindris berlapis banyak
Lokasi: Laring (sel-selnya bersilia), faring, uretra, lapisan lendir (membran mukosa), anus. 
Fungsi: Proteksi, sekresi dan absorpsi . 
7) Epitelium silindris berlapis banyak semu
Lokasi: Sel-sel bersilia : duktus epididymis vasedeferen, membran mukosa saluran pernafasan, tuba eustakhius. Sedangkan yang terdapat pada uretra laki-laki sel-selnya tidak bersilia . 
Fungsi: Proteksi, sekresi dan pergerakan zat
8) Epitelium transisional 
Lokasi: Kandung kemih, ureter, uretra, dan ginjal. 
Fungsi: Proteksi terhadap perubahan volume organ. 
b. Jaringan Ikat

1) Macam Jaringan ikat: 
a) Jaringan ikat biasa
b) Jaringan ikat longgar
c) Jaringan ikat padat 
d) Jaringan ikat khusus
e) Tulang rawan 
f) Tulang 
g) Darah dan limfe 
h) Jaringan lemak 
i) Jaringan Otot


c. Macam-macam Sel Otot Otot 
lurik: bekerja dibawah saraf sadar (volunter), cepat menanggapi rangsang, inti lebih dari satu dan terletak di tepi sel, mengandung serabut otot, memiliki myofibril yang memantulkan cahaya gelap terang berselang-seling, terdapat pada organ luar.
Otot polos: bekerja dibawah saraf tidak sadar (involunter), lambat menanggapi rangsang, inti satu dan terletak di tengah sitoplasma, tidak mengandung serabut otot, terdapat pada organ viseral Otot jantung: bekerja dibawah saraf tidak sadar (involunter), lambat menanggapi rangsang, inti satu atau lebih dari satu dan terletak di tepi sitoplasma, memiliki
  
Jaringan Saraf 
Sel saraf terdiri atas: dendrit, badan sel saraf yang mengandung inti, akson. 
Macam-macam sel saraf berdasarkan fungsinya:
Saraf sensorik/aferent 
Saraf motorik/eferent

E. Letak dan Fungsi Jaringan pada hewan.

Hewan memiliki 4 macam jaringan, yaitu jaringan epitel, ikat, rangka, dan otot.
1. Jaringan Epitel
Fungsi:
a. pelindung jaringan yang dibawahnya dari kerusakan.
b. Pengangkut zat-zat antar jaringan.
c. Tempat keluarnya enzim.
Berdasarkan letaknya, jaringan epitel dibagi menjadi 3, yaitu:
a. epitelium: pelapis organ
b. mesotelium: pelapis rongga tubuh bagian luar
c. endotelium: membatasi organ tubuh.
Jaringan epitel disusun oleh beberapa sel, yaitu:
a. epitel pipih
b. berbentuk pipih, nukleus bulat di tengah.
c. epitel silinder
d. berbentuk silinder atau batang, nukleus bulat besar di tengah.
e. epitel kubus
f. berbentuk kubus, nukleus bulat besar di tengah.
Berdasarkan lapisan penyusunnya, jairngan epitel dibagi menjadi:
1) epitel pipih selapis
Inti sel berbentuk bulat di tengah.
Sel-sel tersusun rapat.
Letak: pembuluh darah, pembuluh limfa, paru-paru, alveoli, selaput perut.
Fungsi: proses filtrasi, sekresi, dan difusi osmosis.
2) epitel pipih berlapis banyak
tersusun sangat rapat.
Letak: rongga mulut, esofagus, laring, vagina, saluran anus, dan rongga hidung.
Fungsi: pelindung dan penghasil mucus
3) epitel silindris selapis
inti sel bulat berada di dekat dasar
Letak: usus, dinding lambung, kantung empedu, saluran rahim, saluran pencernaan, dan saluran pernapasan bagian atas.
Fungsi: sekresi, penyerapan, penghasil mucus, dan pelumas permukaan saluran.
4) epitel silindris berlapis banyak
tersusun oleh banyak lapisan sel berbentuk batang
Letak: mata, faring, laring, uretra.
Fungsi: tempat sekresi, seperti pada kelenjar ludah dan susu.
5) epitel kubus selapis
Letak: permukaan ovarium, nefron, ginjal, dan lensa mata.
Fungsi: tempat sekresi.
6) epitel kubus berlapis banyak
Letak: folikel, ovarium, testis, kelenjar keringat, dan kelenjar ludah.
Fungsi: pelindung dari gesekan dan penghasil mukus
7) epitel transisi
bentuknya berubah-ubah dan berlapis-lapis.
Letak: saluran pernapasan, ureter, dan kandung kemih.
Fungsi: tempat sekresi zat metabolisme.

2. Jaringan Ikat/Jaringan Penyambung/Jaringan Penyokong
a. Ciri-ciri jaringan ikat:
1. Sel-selnya tersusun amat jarang dan melebar dan tersebar dalam matriks ekstraseluler.
2. Bentuk tidak teratur.
3. Fungsi:
a) melekatkan konstruksi antarjaringan
b) membungkus organ
c) menghasilkan energi
d) menghasilkan sistem imun
e) mengisi rongga-rongga di antara organ
b. Jaringan ikat tersusun atas:
1. sel fibroblas
berbentuk serat
fungsi: mensekresikan protein
2. sel makrofaga
bentuk tidak tetap
terletak dekat pembuluh darah
fungsi: fagositosis (memakan at buangan, sel-sel mati, bakteri)
3. sel tiang
fungsi: menghasilkan hormon heparin (berperan dalam pembekuan darah) dan histamin (meningkatkan permeabilitas kapiler darah)
4. sel lemak
fungsi: menyimpan lemak.
5. berbagai jenis jaringan sel darah putih (leukosit)
fungsi: melawan patogen
sel darah putih terbagi menjadi 2 jenis sel, yaitu granulosit (sel bergranula), misalnya eosinofil, basofil, dan netrofil dan sel tak bergranula (agranulosit), misalnya monosit dan limfosit.
6. sel plasma
Letak: saluran pernapasan dan saluran pencernaan
Fungsi: memproduksi antibodi untuk melawan antigen (protein asing)

c. Sebagian besar matriks jaringan ikat terdapat serat-serat dan bahan dasar berupa cairan.
Serat jaringan ikat terbuat dari protein dan dibagi menjadi:
1. serat kolagen
a) tersusun atas kolagen sehingga bersifat kuat, daya regang tinggi, elastisitas rendah
b) berwarna putih
c) letak: kulit, tulang, tendon.
2. serat elastis
a) berwarna kuning
b) tersusun atas protein elastin dan mukopolisakarida sehingga elastisitas tinggi.
c) Letak: bantalan lemak, ligamen, dan pembuluh darah.
3. serat retikuler
a) sangat tipis dan bercabang.
b) Tersusun atas kolagen dan terhubung pula dengan serat kolagen.
c) Mengandung glikogen
d) Fungsi: penghubung jaringan pengikat dengan jaringan sebelahnya.
e) Letak: hati, limpa, dan kelenjar-kelenjar limpa
f) Bahan dasar tidak memiliki warna, tidak berbentuk, dan homogen.
g) Bahan dasar berasal dari asam mukopolisakarida, yaitu asam hialuronat sehingga matriks menjadi lentur dan semakin banyak air. Selain asam hialuronat, terdapat pula mukopolisakarida sehingga struktur jaringan ikat bersifat kaku.

Berdasarkan jenisnya, jaringan ikat dikelompokkan dalam 3 tipe, yaitu:
1. Jaringan ikat sebenarnya
Jaringan ikat sebanrnya dibedakan menjadi:
a. Jaringan ikat berserat
1) mengandung serat putih berkolagen, namun kolagennya tidak elastis.
2) Letak: tendon pada otot ke tulang dan ligamen yang menghubungkan tulang dengan tulang lain pada persendian.
3) Fungsi: menghubungkan tulang dengan tulang, dan otot dengan tulang.
2. Jaringan ikat elastis
a. mengandung serabut elastis kuning
b. letak: ligamen dan dinding arteri
c. fungsi: pelindung elastisitas jaringan.
3. Jaringan ikat lemak/jaringan adiposa
a. Letak: epidermis kulit, sumsum tulang, sekitar sendi dan ginjal.
b. Fungsi: melapisi tubuh, menyimpan molekul bahan bakar, menyimpan lemak, dan berperan sebagi bantalan.
4. Jaringan pengikat longgar
a. mengandung serat kolagen, elastis, dan retikuler.
b. Letak: dibawah kulit, dekat pembuluh darah, dan sekitar organ.
c. Fungsi: mengikat jaringan epitel dan jaringan di bawahnya, menjaga organ tetap berada di tempatnya.

Back To Top