Model Pembelajaran Berbasis Masalah atau (Problem Based Learning) - Perangkat Pembelajaran Kompetensi Abad 21

Buku Mapel, RPP, Buku Kerja Guru, Perangkat Akreditasi, Silabus, PERMENDIKBUD, Buku Kerja Kepala Sekolah, Tematik, KKM, SKL, KI-KD, Juknis TK, PAUD, SD, MI, SMP, MTs, SMA, MA, SMK

Model Pembelajaran Berbasis Masalah atau (Problem Based Learning)

Model Pembelajaran Berbasis Masalah atau  (Problem Based Learning)

Model Pembelajaran Berbasis Masalah atau  (Problem Based Learning) ini sangat mendukung implementasi Kurikulum 2013, terutama yang terkait dengan tahapan proses pembelajaran. Melalui kegiatan pembelajaran berbasis masalah ini peserta didik akan mendapat pengetahuan penting yang membuat mereka mahir  dalam memecahkan masalah dan memiliki model belajar sendiri serta memiliki kecakapan berpartisipasi dalam tim. Proses pembelajarannya menggunakan pendekatan yang sistemik untuk memecahkan masalah  atau menghadapi tantangan yang nanti diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.

Pengertian
Pembelajaran berbasis masalah merupakan sebuah pendekatan dan juga model pembelajaran yang menyajikan masalah kontekstual sehingga merangsang peserta didik untuk belajar. Dalam kelas yang menerapkan pembelajaran berbasis masalah, peserta didik bekerja dalam tim untuk memecahkan masalah dunia nyata (real world). 

Pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu metode pembelajaran yang menantang peserta didik untuk “belajar bagaimana belajar”, bekerja secara berkelompok untuk mencari solusi dari permasalahan dunia nyata. Masalah yang diberikan ini digunakan untuk mengikat peserta didik pada rasa ingin tahu. Masalah diberikan kepada peserta didik, sebelum peserta didik mempelajari konsep atau materi yang berkenaan dengan masalah yang harus dipecahkan.

Tujuan dan Hasil dari Model Pembelajaran Berbasis Masalah 
Tujuan dan hasil pengembangan model pembelajaran berbasis masalah antara lain: 
  • Mengembangkan keterampilan berpikir dan keterampilan memecahkan masalah 
  • Menerapkan pemodelan dalam rangka menjembatani gap antara pembelajaran sekolah formal dengan aktivitas mental yang lebih praktis yang dijumpai di luar sekolah. 
  • Mengembangkan pembelajaran mandiri/Belajar pengarahan sendiri (self directed learning). Mengingat pembelajaran berbasis masalah berpusat pada peserta didik, maka peserta didik harus dapat menentukan sendiri apa yang harus dipelajari, dan dari mana informasi harus diperoleh, di bawah bimbingan guru. 

Prinsip-Prinsip Pembelajaran Berbasis Masalah 
  • Menekankan pada strategi proyek. 
  • Responsibility: pembelajaran ini menekankan pada responsibility dan answerability para peserta didik dan panutannya. 
  • Realisme: kegiatan peserta didik difokuskan pada pekerjaan yang serupa dengan situasi yang sebenarnya. Aktivitas ini mengintegrasikan tugas autentik dan menghasilkan sikap profesional. 
  • Active-learning: menumbuhkan isu yang berujung pada pertanyaan dan keinginan peserta didik untuk menemukan jawaban yang relevan, sehingga dengan demikian telah terjadi proses pembelajaran yang mandiri. 
  • Umpan Balik: diskusi, presentasi, dan evaluasi terhadap para peserta didik menghasilkan umpan balik yang berharga. Ini mendorong ke arah pembelajaran berdasarkan pengalaman. 
  • Keterampilan Umum: model ini dikembangkan tidak hanya pada keterampilan pokok dan pengetahuan saja, tetapi juga mempunyai pengaruh besar pada keterampilan yang mendasar seperti pemecahan masalah, kerja kelompok, dan selfmanagement. 
  • Driving Questions: PBL (Project Based Learning) difokuskan pada pertanyaan atau permasalahan yang memicu peserta didik untuk berbuat menyelesaikan permasalahan dengan konsep, prinsip dan ilmu pengetahuan yang sesuai. 
  • Constructive Investigations: sebagai titik pusat, proyek harus disesuaikan dengan pengetahuan para peserta didik. 
  • Autonomy: proyek menjadikan aktivitas peserta didik sangat penting
Langkah-Langkah Operasional    

Pembelajaran suatu materi pelajaran dengan menggunakan pembelajaran berbasis masalah sebagai basis model dilaksanakan dengan cara mengikuti lima langkah dengan bobot atau kedalaman setiap langkahnya disesuaikan dengan mata pelajaran yang bersangkutan. 
  • Konsep Dasar (Basic Concept) Dalam hal ini guru atau fasilitator dapat memberikan konsep dasar, petunjuk, referensi, dan keterampilan yang diperlukan dalam pembelajaran sejarah. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik lebih cepat masuk dalam suasana pembelajaran dan mendapatkan ‘peta’ yang akurat tentang arah dan tujuan pembelajaran. Lebih jauh, hal ini diperlukan untuk memastikan peserta didik memperoleh kunci utama materi pembelajaran, sehingga segera mendapatkan berbagai masalah yang relevan dengan topik pembelajaran. 
  • Pendefinisian Masalah (Defining the Problem) Dalam langkah  ini fasilitator menyampaikan skenario atau permasalahan dan peserta didik di masing-masing kelompok diminta melakukan berbagai kegiatan. 
    • Melakukan curah pendapat (brainstorming) yang dilaksanakan dengan cara semua anggota kelompok mengungkapkan pendapat, ide, dan tanggapan terhadap skenario secara bebas, sehingga dimungkinkan muncul berbagai macam alternatif pendapat. Kalau muncul pendapat atau masalah yang dapat dipecahkan di kelompok segera didiskusikan, sedang pendapat atau masalah yang tidak dapat dipecahkan di kelompok dicatat sebagai masalah kelompok. 
    • Melakukan seleksi alternatif untuk memilih pendapat atau masalah yang lebih fokus. 
    • Menentukan permasalahan dan melakukan pembagian tugas dalam kelompok sehingga masing-masing anggota memahami tugasnya. Fasilitator memvalidasi pilihan-pilihan yang diambil/masalah yang akan dipecahkan peserta didik.
  • Pembelajaran Mandiri (Self Learning) Setelah mengetahui tugasnya, masing-masing peserta didik mencari berbagai sumber yang dapat memperjelas isu yang sedang diinvestigasi/ dipecahkan. Sumber yang dimaksud dapat dalam bentuk artikel tertulis yang tersimpan di perpustakaan, halaman web, atau bahkan pakar dalam bidang yang relevan. Tahap investigasi memiliki dua tujuan utama, yaitu: 
    • agar peserta didik mencari informasi dan mengembangkan pemahaman yang relevan dengan permasalahan yang telah didiskusikan di kelas, dan 
    • informasi dikumpulkan dengan satu tujuan yaitu dipresentasikan di kelas dan informasi tersebut haruslah relevan dan dapat dipahami.  Di luar pertemuan dengan fasilitator, peserta didik bebas untuk mengadakan pertemuan dan melakukan berbagai kegiatan. Dalam pertemuan tersebut peserta didik akan saling bertukar informasi yang telah dikumpulkannya dan pengetahuan yang telah mereka bangun. Peserta  didik juga harus mengorganisasi informasi yang didiskusikan, sehingga anggota kelompok lain dapat memahami relevansi terhadap permasalahan yang dihadapi.  
  • Diskusi kelompok Pertukaran Pengetahuan    (Exchange knowledge)  
    • Setelah mendapatkan sumber untuk keperluan pendalaman materi dalam langkah pembelajaran mandiri, selanjutnya pada pertemuan berikutnya peserta didik berdiskusi dalam kelompoknya. Masing-masing anggota melaporkan hasil kerjanya dan anggota lain saling memberi masukan, sehingga menghasilkan rumusan pemecahan masalah di kelompoknya. 
  • Presentasi antar kelompok dalam pleno kelas dan   merumuskan kesimpulan  Langkah selanjutnya presentasi hasil dalam pleno (kelas besar) dengan mengakomodasi masukan dari pleno, menentukan kesimpulan akhir, dan dokumentasi akhir. Secara sederhana John Dewey merumuskan enam langkah dalam pembelajaran berbasis masalah sebagai berikut: 
    • Merumuskan masalah: guru membimbing peserta didik untuk mengidentifikasi dan merumuskan masalah yang akan akan dikaji/ dipecahkan.
    • Menganalisis masalah : mendeskripsikan secara kritis masalah itu dari berbagai sudut pandang.
    • Merumuskan hipotesis: merumuskan berbagai kemungkinan pemecahan masalah
    • Mengumpulkan data: mencari dan mengumpulkan berbagai sumber dan informasi untuk memecahkan masalah.
    • Pengujian hipotesis. 
    • Merumuskan rekomendasi.
Tag : RPP, Silabus
Back To Top